Strategi Digital Marketing : Push Marketing vs Pull Marketing

Charles Darwin pernah mengatakan “It is not the strongest or most intelligent species that survives; but the one that is adaptable to change.”

Welcome to the Digital Economy.
Saat ini kita semua tahu bahwa era ekonomi digital telah dimulai dan telah merevolusi strategi bisnis dari yang selama ini kita ketahui. Untuk bisa beradaptasi terhadap perubahan di era ini maka dibutuhkan strategi digital marketing bagi para pebisnis dan pengusaha agar bisa bersaing dan berkembang serta meraih sukses di bidangnya.

Ok, lalu apa strategi tersebut? Baik, mari kita berkenalan dengan istilah Push dan Pull Marketing yang diperkenalkan pertamakali tahun 70-an yang akan kita pakai dan sesuaikan di era digital saat ini.

Push vs Pull Marketing Strategy
1.Push Marketing : dikenal juga sebagai Outbound Marketing di era digital ini, adalah strategi dimana perusahaan mem-push atau mendorong produk atau pesan kepada pasar yang relevan. Sebagai contoh :

Tradisional : memasang spanduk, beriklan di TV/radio/koran, membagikan brosur/flyer/kartu nama, telemarketing, melakukan pameran/presentasi ke calon prospek secara offline.

Digital : memasang iklan di social media, memasang iklan banner/pop-up di website pengiklan/mobile app, mengirimkan email spamming/broadcast, mempromosikan kode diskon/voucher, memasang push notification di website.

Tujuan dari Push Marketing adalah untuk “mencari dan menemukan” calon konsumen yang barangkali berminat terhadap produk/service yang ditawarkan.

2.Pull Marketing : dikenal juga sebagai Inbound Marketing di era digital, adalah strategi dimana perusahaan melakukan usaha agar bisa “dicari atau ditemukan” calon konsumen yang telah memiliki minat dan mencari produk/jasa yang telah diketahuinya. Sebagai contoh :

Tradisional : melakukan update produk/jasa berkualitas sesuai permintaan pasar sehingga diinginkan konsumen dan membangun branding di mata konsumen, menyediakan showroom/tempat usaha yang bisa ditemukan pengunjung, memasang papan nama yang bisa terlihat dari jalan, menyediakan no telpon yang bisa dihubungi, membina dan merawat konsumen setia sehingga berpotensi terjadi promosi word-of-mouth(mulut ke mulut).

Digital : melakukan update konten website berkualitas secara berkala sehingga bisa ditemukan prospek di Google dan membangun branding di dunia online, memasang iklan PPC(Pay Per Click) di Google yang terlihat saat prospek melakukan pencarian produk/jasa yang diinginkan, membuat video dengan informasi yang relevan sehingga bisa ditemukan peminat di Youtube, menyediakan toko online untuk memudahkan transaksi produk/jasa secara online, membina dan merawat jaringan followers/likers sehingga berpotensi menjadi viral.

Lalu pertanyaannya, manakah yang sebaiknya digunakan?

Push Marketing pada umumnya digunakan jika kita memiliki hal baru baik itu info usaha, jasa, produk yang kita ingin diketahui atau menarik perhatian pasar yang berpotensi menjadi konsumen tetapi biasanya belum siap untuk bertransaksi atau jika kita ingin menjangkau ‘niche market’ yaitu pasar yang lebih spesifik dengan konsumen yang memenuhi kriteria-kriteria tertentu.

Pull Marketing pada umumnya digunakan jika kita sudah memiliki produk/jasa yang umumnya sudah diketahui oleh konsumen karena jenisnya berbalik dengan sebelumnya, disini konsumen biasanya lebih siap bertransaksi karena sedikit banyak sudah tahu apa yang diinginkan dan aktif mencari atau membandingkan informasi untuk menemukan yang terbaik baginya.

Kesimpulannya, strategi digital marketing sebaiknya bisa mengambil sisi baik dari keduanya yaitu jika perusahaan ingin lebih cepat dikenal pasar yang belum mengetahui tentang produk/jasanya dan membangun brand menggunakan Push Marketing dan bagi perusahaan yang ingin ditemukan konsumen yang sudah tahu mengenai produk/jasa tertentu dan sedang mencari pembanding atau mencari informasi yang dibutuhkan maka menggunakan Pull Marketing.