Digital Marketing Sales Funnel

 

TAHAP 1 : Awareness,
tujuan promosi awal harus fokus untuk membuat orang menyadari atau ‘ngeh’ dulu dengan adanya iklan kita, yaitu dengan membuat design yang bisa merebut perhatian pemirsa dalam waktu sekejap untuk bersaing dengan limpahan informasi lain yang diterimanya setiap saat (the average smartphone user today scrolls some 178 metres every 24 hours – Source:DigitalArtsOnline). Artinya kurang lebih bahwa rata-rata pengguna smartphone menggulung layar hingga sepanjang 178 meter setiap 24 jam, bayangkan betapa banyak informasi yang diterima seorang pengguna smartphone dalam 24 jam!

Jadi prioritas utama kita adalah bagaimana membuat design iklan dalam ukuran yg hanya beberapa centimeter  bisa menang bersaing menarik perhatian dibanding ratusan meter informasi lain di layar smartphone pemirsa. Sebagus apapun design iklan jika tidak bisa memenangkan persaingan Awareness pemirsa maka akan menggagalkan semua rencana dari awal.

 

TAHAP 2 : Interest,
Setelah pemirsa memperhatikan iklan kita, barulah proses funneling bisa dimulai selanjutnya yaitu membuat pemirsa bisa tertarik dengan apa yang kita tawarkan kepada mereka.

Faktanya adalah setiap orang memiliki stasiun radio favorit di kepala mereka yaitu WII FM (What’s In It For Me) atau “Apa Sih Gunanya Itu Buat Saya?” disinilah kita menjelaskan dengan isi iklan yang relevan manfaatnya bagi pemirsa, alih-alih menjelaskan tentang fitur-fitur canggih seperti teknologi yang dipakai atau jargon keren atau asing yang menimbulkan pertanyaan “So What?” maka sebaiknya gunakan penyampaian yang bisa dipahami sehingga membuat pemirsa tertarik.

Disinilah tantangannya karena tidak semua orang awam bisa paham dalam sekejap sehingga butuh yang namanya edukasi pasar terus-terusan dengan frekuensi yang berulang-ulang.

 

TAHAP 3 : Desire,
Selanjutnya setelah pemirsa paham manfaatnya sehingga tertarik masih dibutuhkan juga gairah(keinginan yang sangat kuat) sampai bisa membuat orang rela melakukan ‘perpisahan yang teramat sangat berat’ dengan uang mereka, penyebabnya karena pada dasarnya setiap orang memiliki FEAR OF LOSS atau takut rugi…
nah jika kadar FEAR OF LOSS mereka jauh lebih besar akibat merasa tidak mengambil penawaran kita dibanding FEAR OF LOSS akan uang mereka maka baru bisa membuat penawaran kita berhasil

Caranya bisa dengan Gimmick scarcity(kelangkaan) misal kuota/waktu terbatas atau monetary gain(lebih hemat/murah) misal discount dsb, dan cara ini masih dipakai oleh semua bisnis dari kecil hingga besar dan ternama. Contohnya bisa lihat butik branded di mall-mall yang melakukan sale sehingga membuat ibu-ibu NO FEAR… 😀

 

TAHAP 4 : Action,
Setelah semua proses berjalan lancar maka langkah terakhir adalah membuat pemirsa melakukan action atau mengambil tindakan segera, sayangnya proses ini sering dianggap remeh karena beranggapan bahwa jika sudah melalui ketiga proses sebelumnya pasti akan terjadi transaksi dengan sendirinya….
kenyataannya tidak demikian, seringkali penundaan membuat lupa dan berakhir kegagalan transaksi dan akhirnya semakin seringlah mendapat calon konsumen dengan predikat PHP(Pemberi Harapan Palsu)… 😀

Karena itu setiap iklan yang baik harus memiliki unsur Call To Action seperti beli sekarang, hubungi kami sekarang, datang sekarang yang intinya mengajak pemirsa segera closing sebelum berpindah ke lain hati…

TAHAP 5: SELLING,

Setelah pemirsa berhasil kita closing menjadi konsumen, Congratulations!! tapi apakah sudah selesai? ternyata tidak, justru kegiatan selling sebenarnya baru dimulai, ada dua jenis selling yang biasanya dipakai yaitu CROSS SELLING dan UPSELLING.

Jika pada tahap funneling fokusnya adalah QUANTITY dengan meraih sebanyak mungkin konsumen baru yang umumnya masih melakukan transaksi perkenalan atau coba-coba karena tertarik harga atau mencoba hal baru baginya, maka tahap selling fokusnya adalah QUALITY dengan menawarkan transaksi pelengkap atau yang lebih menguntungkan bagi kita.

FAQ

1. Kenapa harus Cross Selling dan Upselling?
Sebab untuk memulai proses marketing funneling membutuhkan biaya (waktu atau uang) untuk mendapatkan konsumen baru yang disebut dengan biaya akuisisi (acquisition cost), nah biaya ini bisa menjadi investasi yang menguntungkan jika terjadi keuntungan akibat Cross Selling dan Upselling yang menutupi biaya akuisisi tersebut.

2. Bisakah mendapatkan konsumen baru tanpa harus mengeluarkan biaya akuisisi (acquisition cost) dan tanpa harus Cross Selling apalagi Upselling ?
Bisa, misalkan dengan mendapatkan konsumen baru dari referensi konsumen sebelumnya, punya database konsumen atau sudah menjadi market leader sehingga konsumen yang datang sendiri dan tidak perlu repot-repot melakukan cross selling/upselling;) Tapi kami sarankan walaupun sudah menjadi market leader, sebaiknya tidak terlena dengan kesuksesan dan harus tetap melakukan kegiatan marketing dan selling setiap saat.

TAHAP 6: NURTURING,
Nurturing atau merawat adalah tahap paling menguntungkan bagi bisnis, apa yang harus dirawat? yaitu Customer Loyalty

“Once you create a loyal customer base, it’s tough for a competitor to take that away.”
Joe Mansueto
CEO, Morningstar Inc

Paling menguntungkan karena dari biaya akuisisi konsumen bisa berubah menjadi investasi dengan ROI (Return Of Investment) berlipat kali ganda dan berkali-kali jika konsumen menjadi loyal sehingga belanja berulang-ulang hanya pada kita dan memberikan testimoni bagus serta melakukan “Word of Mouth” alias promosi gratis kepada orang-orang,
tapi sayangnya tahap ini paling sering diabaikan karena keterbatasan waktu, tenaga dan pengetahuan.
Lalu bagaimana cara merawatnya dengan keterbatasan kita tersebut? caranya dengan bantuan teknologi otomatis, yaitu :
1.Website : blogging atau menulis artikel yang memberikan manfaat seperti tips, edukasi atau news update.
2.Email Marketing : list building dengan email newsletter atau ucapan ulang tahun otomatis kepada konsumen, info promosi, dsb.
3.Membership Loyalty program : membership software atau app.
4.Social Media : sharing artikel website, video/foto, quotes, dll.
5.Online Shop : memudahkan, hemat waktu dan praktis saat beli produk berulang.